Sister Panda

Tentang Layanan

Sister Panda. Sister Pnda adalah Sistem Terpadu Pelayanan dan Perlindungan terhadap Kekerasan pada Perempuan dan Anak.

Alur Layanan

Sister Panda. Silahkan lihat alur layanan pada gambar dibawah 

Dokter Penanggung Jawab

dr. Hj. Rahmi Rahim, Sp.A

dr. Hj. Rahmi Rahim, Sp.A, MARS
Spesialis Anak

dr. Denny Matius, M.Kes, Sp.F

dr. Denny Matius, M. Kes, Sp.F
Spesialis Forensik

dr. Balqis, M.Kes, Sp.KJ.Kes​
Spesialis Jiwa

DR. dr. Rina Previana Amiruddin, Sp. OG

DR. dr. Rina Previana Amiruddin, Sp. OG
Spesialis Kandungan

Lebih Lengkap dengan Sister Panda

SISTER PANDA RSUD Labuang Baji adalah Sistem Terpadu Pelayanan dan Perlindungan terhadap Kekerasan pada Perempuan dan Anak” .Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak (KtP/A), merupakan masalah global yang terkait Hak Asasi Manusia (HAM) dan ketimpangan gender. Permasalahan ini masih menjadi ‘fenomena gunung es’, yaitu kasus KtP/A yang teridentifikasi di pelayanan kesehatan dasar dan rujukan serta kepolisian belum menggambarkan jumlah seluruh kasus yang ada di masyarakat. Hal tersebut disebabkan sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa kasus KtP/A merupakan “aib” dan masalah “domestik” dalam keluarga, yang tidak pantas diketahui orang lain.

Menurut World Health Organization (WHO), sedikitnya satu diantara lima penduduk perempuan di dunia, semasa hidupnya pernah mengalami kekerasan fisik atau seksual yang dilakukan oleh laki-laki. Kekerasan terhadap Perempuan (KtP) merupakan penyebab kematian urutan ke-10 terbesar bagi perempuan usia subur pada tahun 1998. Data dari cataan tahunan Komisi Nasional Perempuan Indonesia tercatat peningkatan kasus dari tahun 2011 sebanyak 119.107 kasus menjadi 321.752 kasus KtP. Di Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir terjadi peningkatan kasus KtP, KtA dan secara bermakna, berdasarkan laporan Lembaga yang terkait. Kekerasan tersebut, dapat dalam berbentuk kekerasan seksual, kekerasan fisik dan kekerasan psikis.

Data dari Komnas Perempuan mencatat bahwa pada tahun 2007 terdapat 25.522 kasus kekerasan terhadap perempuan dan 54.425 kasus pada tahun 2008 yang ditangani pada pusat layanan. Dari jumlah tersebut 90% merupakan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Hasil survei kekerasan terhadap perempuan dan anak tahun 2006 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kantor Pemberdayaan Perempuan (KPA), menghitung prevalensi kekerasan terhadap perempuan adalah sebesar 3.07% (30 dari setiap 1000 perempuan) dan kekerasan terhadap adalah sebesar 3,02%. Meskipun Sebagian besar korban kekerasan adalah perempuan namun laki-laki, anak laki-laki dan anak perempuan juga mengalami kekerasan seksual.

Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya menjaga dan melindungi anak (caretaker) terhadap seorang anak baik secara fisiik, verbal,  seksual maupun emosi. Pelaku kekerasan dalam hal ini, karena bertindak sebagai caretaker, maka mereka umumnya adalah orang dekat yang berada secara fisiko di sekitar anak, seperti ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek, paman, bibi, supir keluarga/pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang kebun dan seterusnya. Jumlah anak korban kekerasan dan perlakuan salah pad tahun 2004 mencapai 48.526 kasus (Depsos, 2004). Anak-anak yang mengalami kekerasan atau kejahatan (yang menyebabkan gangguan fisik dan atau mental) diperkirakan sebesar 10–12 % pertahun dari seluruh jumlah anak di Indonesia.

Hingga saat ini penanganan korban kekerasan terhadap perempuan (KtP) dan kekerasan terhadap anak (KtA) yang diselenggarakan di rumah sakit khususnya rumah sakit pemerintah belum berjalan secara terpadu dan berkesinambungan. Manajamen dan jajarannya terutama profesional pemberi asuhan/layanan belum melihat kasus KtP dan KtA sebagai kasus yang harus ditangani secara serius dan bersungguh-sungguh. Petugas Kesehatan atau professional pemberi layanan/asuhan sebagai lini terdepan layanan publik adalah orang pertama yang akan didatangi bila korban mendapat cedera serius. Pemahaman dan kepekaan petugas diperlukan untuk dapat sangatlah diperlukan untuk mengidentifikasi kasus-kasus seperti ini. Selain itu, kasus kekerasa biasanya sudah berlangsung kronik dan seringkali bermanifestasi dalam bentuk penyakit-penyakit lain, seperti psikosomatis, depresi, stress, dan bahkan seringkali mengganggu Kesehatan individu dalam jangka panjang yang tidak disadari oleh korban kekerasan itu sendiri.

Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, diperlukan upaya peningkatan pelayanan terhadap korban kekerasan baik perempuan maupun anak di tingkat rumah sakit dengan melibatkan semua unsur baik dari dalam rumah sakit sendiri maupun pihak-pihak di luar rumah sakit misalnya Dinas Pemberbadayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas Sosial, Lembaga Pemerhati Masalah Perempuan dan Anak, secara profesional dan bermutu tinggi dengan berfokus pada kepentingan korban.  Berdasarkan uraian tersebut diatas, maka RSUD LABUANG BAJI hadir memberikan layanan”Sistem Terpadu Pelayanan dan Perlindungan terhadap Kekerasan pada Perempuan dan Anak” atau disingkat “SISTER PANDA”.